Komunitas Art Kota Daeng mengaransemen ulang lagu daerah agar le- bih didengar kalangan muda. Kerja sama gitar-bas Yusran Hidayat dan ritem akustik Christoforus begitu apik memainkan intro irama lagu latar film Mission Impossible. Selepas intro itu, irama suling, gitar, ukulele, jimbe, kattok-kattok, gemerincing, dan pentungan bersautan mengiringi Sulawesi Parasanganta yang mereka nyanyikan sendiri di bawah tugu patung Sultan Hasanuddin, di depan Benteng Fort Rotterdam, Makassar.
“Kami mix dengan soundtrack Mission Impossible agar pendengar bisa terkesan dengan lagu daerah ini,” kata Anhar Dana Putra, atau biasa disapa Karaeng Lompo, sebutan bagi anggota senior dalam Komunitas Art Kota Daeng (Karaeng).
Lagu tradisional Makassar yang dimainkan 10 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) memang terdengar tidak biasa. Mereka mengaransemen musik lagu daerah itu secara kontemporer dengan alat musik yang cukup sederhana yang dikreasikan sendiri. Seperti gitar akustik yang disulap menjadi gitar bas. Batang bambu dikreasikan menjadi pentungan dan kattok-kattok.“Kamimencopot beberapa tali gitar hingga bisa menjadi bas,” kata Anhar.
Pembentukan komunitas yang bermarkas di fakultas psikologi ini bertujuan membangkitkan kembali kearifan lokal empat etnis Sulawesi Selatan yang mulai redup dengan bermunculan musik dan aliran modern sekarang ini. “Kami ada untuk mewakili sebagian pemuda yang peduli dengan budaya sendiri, utamanya lagu daerah tapi bukan lagu daerah modern,”kata mahasiswa semester akhir ini.
Kepeduliannya terhadap lagu tradisional itu, kata Anhar, tentu dihadirkan dengan ornamen musik baru agar mampu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, terutama kaum muda.“Musik tradisional yang sering didengar sekarang kan masih konservatif.
Makanya kami hadirkan lagi dengan sentuhan kontemporer agar lebih bervariasi.” Menurut dia, musik daerah sekarang ini memang butuh tambahan ornamen baru agar bisa hadir kembali di tengah masyarakat. Mengubah warna musik kontemporer, diharapkan mampu menyaingi warna musik lainnya yang disuguhkan secara pop atau jazz.“Hanya musiknya, lirik kami pertahankan,”kata dia.
Alunan musik tembang khas tanah Celebes yang diaransemen ini lebih mirip musik tradisional langgam atau campur sari dari Jawa, dengan hadirnya bas klasik, biola, gitar, suling, dan ditam
bah musik tradisional asal Sulawesi Selatan, seperti gandrang bulo, kattok-kattok, pentungan, sindrilik, kesok-kesok, untuk menambah warna baru pada musik.
bah musik tradisional asal Sulawesi Selatan, seperti gandrang bulo, kattok-kattok, pentungan, sindrilik, kesok-kesok, untuk menambah warna baru pada musik.
“Kami tetap pakai irama daerah.
Musik kami kerap disebut langgam,”ujar Anhar. Kepala Suku atau Ketua Karaeng Fakultas Psikologi UNM, Sandy, menjelaskan, meski belum punya karya sendiri, mereka sudah mengaransemen beberapa lagu tradisional kontemporer. Seperti lagu Bugis, Alosi Ripolo Dua; lagu Makassar, Anging Mammiri, Sulawesiku, dan Sulawesi Parasanganta; serta lagu etnis Toraja dan Mamasa sedang digarap. "Kami juga berencana mengaransemen musik lagu Bengawan Solo pada temu alumni UGM nanti,"kata Sandy.
Karaeng diundang pada acara temu alumni Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta, di Hotel Horison Makassar, dan berencana mementaskan lagu karya Gesang Marthohartono, Bengawan Solo, pada acara itu."Kami sangat peduli dengan musik daerah dari mana pun di Indonesia. Kami ingin menghadirkan suasana Jawa kontemporer nantinya, juga lagu dan tari empat etnis Sulsel," kata Sandy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar